Siwonews.co.id_Metro
Pasca hujan deras yang mengguyur Kota Metro beberapa waktu lalu. Kamis, 16 Januari 2025. Yang mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah, termasuk permukiman warga, fasilitas umum, jalan raya, serta lahan pertanian. Terkait hal itu Pemerintah Kota Metro segera merespons dengan langkah strategis untuk mengatasi dampak bencana ini.
Walikota Metro, Wahdi, menegaskan bahwa penanggulangan banjir menjadi prioritas utama pemerintah daerah pada tahun 2025. Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi bersama instansi terkait di Ruang Kerja Walikota Metro, Senin, (20/1/2025). Wahdi menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan kajian berbasis geospasial guna memetakan daerah rawan banjir serta mengevaluasi sistem drainase kota.
Menurut Wahdi, topografi Kota Metro menunjukkan bahwa wilayah Metro Selatan, yang didominasi area persawahan, berada pada posisi dataran rendah dan berisiko tinggi terdampak banjir. Dua aliran sungai utama di kota ini, Sungai Way Bunut dan Sungai Way Batanghari, memiliki ketinggian terendah 25 meter, yang membuat sistem drainase perlu perbaikan menyeluruh.
“Struktur drainase Kota Metro sebenarnya masih peninggalan Belanda, tetapi banyak yang mengalami kerusakan. Oleh karena itu, kita perlu membangun sistem drainase terintegrasi serta melakukan pemetaan daerah rawan banjir berdasarkan data geospasial,” ujar Wahdi.
Pemerintah juga merencanakan normalisasi Sungai Way Bunut dan Way Batanghari dengan mengusulkan pengangkatan sedimentasi dan pembersihan sungai kepada Kementerian PUPR serta Kemenko Infrastruktur dan PK. Selain itu, pemangkasan pohon di sepanjang aliran sungai juga akan dilakukan untuk mencegah penyumbatan.
Selain intervensi struktural, Wahdi menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dan sektor swasta dalam menjaga kebersihan lingkungan dan sistem drainase. Pemerintah berencana menghidupkan kembali gerakan gotong royong melalui program Pekan Kebersihan Lingkungan yang akan melibatkan TNI, kader lingkungan, serta dunia usaha.
“Kita harus mengkampanyekan pentingnya pengelolaan sistem drainase yang baik, agar tidak ada lagi saluran yang tersumbat akibat sampah,” tambah Wahdi.
Dalam kesempatan yang sama, Wahdi mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp20 miliar dari total Rp40 miliar dana fisik untuk menangani banjir di Kota Metro tahun 2025. Anggaran ini akan difokuskan pada daerah yang paling terdampak banjir agar langkah mitigasi lebih efektif.
“Saya ingin memastikan bahwa anggaran yang telah disiapkan ini tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan prioritas daerah rawan banjir,” kata Wahdi.
Sementara itu, Asisten II Sekda Kota Metro, Yerri Ehwan, mengungkapkan bahwa curah hujan tinggi serta kenaikan volume air Sungai Way Batanghari dan Way Bunut menjadi penyebab utama banjir. Bahkan, Way Raman dan Way Sekampung turut meluap hingga ke lahan pertanian warga.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung mencatat intensitas hujan mencapai 58,2 mm pada 16 Januari pukul 22.04 WIB, melebihi kapasitas drainase alami maupun buatan. Wilayah yang terdampak meliputi Tejoagung, Mulyojati, Margorejo, Hadimulyo Barat, dan Hadimulyo Timur, serta area pertanian di Metro Utara dan Selatan.
Banjir ini juga berdampak pada sektor ekonomi. Berdasarkan laporan Pemkot Metro, kerugian akibat banjir di kawasan permukiman mencapai Rp101,7 juta, sementara kerugian sektor pertanian diperkirakan sebesar Rp587,9 juta.
Pemerintah Kota Metro bersama instansi terkait berkomitmen melakukan upaya normalisasi sungai, perbaikan drainase, serta pengangkatan sampah guna mencegah banjir susulan. Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, diharapkan banjir di Kota Metro dapat ditanggulangi secara berkelanjutan. (Adv)
















