Siwonews.co.id
Komisi Pemilihan Umum Kota Metro telah melaksanakan tahapan penetapan nomor urut pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Mulai Rabu (25/9) kemarin, tahapan Pilkada serentak 2024 telah memasuki jadwal kampanye yang diikuti oleh dua pasangan calon (Paslon), di antaranya; Paslon nomor 1, Bambang-Rafieq (Mubaraq) dan Paslon nomor 2, pasangan petahana Wahdi-Qomaru (Waru).
Masuk di momen kampanye, sering kali ditemukan gambar, photo dan rekayasa bahasa yang dikemas sebagai propaganda jahat untuk membangun persepsi di masyarakat.
Dalam kegiatan kampanye tidak akan pernah lepas dari aspek bahasa sebagai peranti-nya dan media sosial menjadi sarana yang ampuh untuk menyebarkan informasi. Sudah menjadi hal lumrah jika para pihak Paslon menciptakan propaganda untuk mempengaruhi untuk menarik simpatik massa. Seperti adanya klaim bahwa Djohan, seorang mantan Wakil Wali Kota Metro dua periode telah memutuskan dukungannya terhadap salah satu Palson. Baik menggunakan photo atau opini sebagai senjata.
Hal tersebut mungkin terjadi, mengingat sosok Djohan yang masih melekat sebagai orang baik bagi sebagian masyarakat Kota Metro. Selain itu, basis militan di belakang Djohan yang selalu terawat hingga saat ini.
Media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi cerita pengalaman pribadi, baik foto liburan atau aktivitas lainnya. Hari ini, platform Sosmed telah menjadi medan pertempuran politik, tempat di mana kandidat dan tim kampanye berinteraksi dengan pemilih. Dengan jutaan pengguna aktif setiap hari, media sosial memiliki potensi besar untuk memengaruhi opini publik.
Terbukti pagi saya bertandang ke sebuah gedung perkantoran. Singkat cerita ketika saya melangkah keluar ruangan berpapasan dengan seorang perempuan. Kita sebut saja Inisialnya ASN.
“Bang Ali, Pak Djohan ke mana, bang?”
“Ada di rumahnya, semalam saya baru telponan dengan beliau,” jawab saya.
“Gua ini tanya serius lho, bang. Abang kan.. dekat dengan beliau,” ujar ASN.
“Ke mana, maksudnya apa mbak?”
“Calon lho, bang. Djohan dukung siapa?” tanya ASN dengan nada kesal sambil mengernyitkan dahi.
“Soal dukungan, beliau belum menentukan sikap mau ke mana,” jawab saya.
“Lah, itu di berita online, ada photo bersama! Gak benar ya?” tanya ASN dengan serius.
“Ya namanya politik, mbak. Pasti ada saling klaim soal dukungan. Tunggu saja, mbak. Nanti juga kita bakal tahu ke mana dia berpihak.”
“Oke, gua tunggu kabarnya, bang,” jawab ASN dengan senyuman di akhir obrolan.
Tidak hanya itu, Kejadian serupa saya alami Minggu lalu ketika saya menghadiri undangan pesta pernikahan salah satu rekan, di kawasan Metro Barat. Saya bertemu dengan salah satu mantan pamong yang kebetulan menjadi panitia penerima tamu.
“Ee.. Mas Ali, piye kabare?”
“Alhamdulillah.. kabar baik, mbah. Gimana kabar mbah dan kabar mbah wedok?” balas saya.
“Yo apik kabeh. Yowes tak terne jimuk mangan,” kata mbah.
Kami beriringan berjalan sembari tangan saya di pegang. Bukannya menuju prasmanan, tapi saya langsung diajak duduk menghampiri sebuah meja. disitu saya lihat sudah terdapat empat orang yang sudah cukup sepuh tengah berbincang-bincang. Sebelum duduk, saya menyalami mereka satu-persatu.
Beberapa detik saya duduk, mbah langsung menyambar pertanyaan sebagai pemantik pembahasan yang belum selesai di pintu masuk tadi.
“Iki wonge pasti reti, Abi Djohan dukung sopo. Rungokno dewe. Ojo jarene iku-iki. Andani mas Ali,” kata mbah dengan penuh antusias.
Belum sempat saya menjawab pertanyaan si mbah, salah satu dari mereka menyuguhkan segelas kopi di meja tepat di depan saya.
“Monggo mas, minum kopi dulu biar jos,” kata bapak yang mengenakan blankon setelah menaruh kopi.
Saya pun langsung mengucapkan terimakasih, dan langsung to the points menjawab pertanyaan tentang keberpihakan Abi Djohan di Pilwakot tahun ini. Melihat, para mbah-mbah yang duduk semeja dengan saya sudah memasang muka penasaran.
“Mbah, maaf sebelumnya. Setahu saya, Abi Djohan belum menyatakan sikap untuk mendukung ke salah calon Wali Kota dan Wakil wali Kota. Nanti Abi Djohan …”
“Tapi kabarnya … dan ada di berita Abi dukung si anu?” tanya Mbah Blangkon dengan memotong perkataan saya.
“Mbah, nanti Abi Djohan kalau sudah menyatakan sikap dukungannya kemana, beliau pasti turun langsung silaturahmi ketemu Mbah-mbahnya semuanya,” sambung saya.
“Soal kabar berita Abi mendukung calon ini itu, namanya politik Mbah, saling mengklaim dukungan ya wajar-wajar saja mbah. Yang jelas saat ini Abi gak kemana-mana,” lanjut saya.
“Pokoknya tunggu saja mbah kabarnya,” tegas saya dengan perut lapar karena belum makan sejak pagi tadi.
“Wes jelas to kabeh, Mas Ali ayo kita makan dulu,” sambut mbah seolah bisa baca pikiran saya.
Secara pribadi penulis mengenal sosok Djohan, ia adalah orang yang berkepribadian baik. Hubungan kami tergambar seperti seorang bapak dan anak/kakak beradik. Baik semasa beliau menjabat Wakil Wali Kota, maupun setelah ia purna tugas seperti saat ini.
Oleh sebab itu, masih banyak mantan rekan kerja, tokoh-tokoh masyarakat yang masih mengingat dan menanyakan hal serupa tentang Djohan. Namun, saya hanya merangkum sedikit dari banyak gambaran masyarakat Kota Metro yang membahas hal serupa. Sampai dengan hari ini, saya pun belum tahu ke mana arah keberpihakan Djohan.
” Djohan belum kemana-mana. Tapi, Djohan ada di mana-mana.” Sabar dek ya!!
Tabik#
















